Agustus 08, 2017

Self Reminder

"You have to let your heart feel when your emotions are knocking on its door, but you can’t let them compromise your dreams"

That's a sentence by Kaelly Welsh on her article (HERE). Ide yang dibawanya dalam artikel ini mengingatkan saya pada Prof Morrie Schwartz, seperti ditulis oleh Mitch Albom dalam buku Tuesdays with Morrie. Morrie mengatakan,"give yourself a cry each morning, then on with the day".


Akhir-akhir ini saya cukup kepayahan dengan ritme hidup yang baru. Pekerjaan yang semakin sibuk, dan jarak tempat tinggal yang semakin jauh dari kantor. Oh, dan beberapa hal personal lainnya. Tapi, semoga semua itu tidak lantas membuat saya lupa akan track yang sudah direncanakan dan goal yang ingin dicapai.
Semoga selalu bisa melakukan yang terbaik. Semoga tidak pernah lupa untuk tidak pernah menyerah.

Juli 04, 2017

Sebuah Kehilangan

Halo, kamu yang dulu menjadi bagian erat dari hidupku.
Terima kasih karena telah mengajarkanku banyak hal
Dan mungkin tidak sebaliknya. Dan aku tahu itulah kesalahan terbesarku.

Sebenarnya ada yang hilang ketika tidak ada lagi namamu di daftar teratas percakapan whatsappku.
Ada yang kurang ketika tidak ada balasan di tab mention twitterku.

Tapi aku tetap di sini, enggan pergi. Enggan menghapuskan namamu dari kontakku, daftar following Twitterku, teman di Goodreadsku.
Siapa tahu suatu saat kamu menengok dan mau menyapaku sekali lagi.

Biarkanlah puluhan kalimat yang telah kukirim lewat aplikasi percakapan di ponsel tetap tak terbaca olehmu. Dan biarkanlah aku untuk tetap tak mengetahui alasannya.
Semoga kamu baik-baik saja.

Semoga aku bisa baik-baik saja.
Semoga.

Januari 03, 2017

Ngobrol Buku: Tiga Ter- di Tahun 2016


Sepertinya saya layak mendapatkan ucapan selamat dari diri sendiri atas pencapaian saya dalam hal membaca di tahun ini *yaay!*
Di 3 bulan terakhir saya sempat keteteran dan ketinggalan dari track karena riweuh dengan persiapan pernikahan. Tapi di akhir tahun saya berhasil menyelesaikan 56 buku dari target membaca sebanyak 52. (Eh itu screen capturenya kurang update, masih 55 buku). Untuk meringkas aktivitas membaca selama setahun kemarin, saya ingin menulis tentang Tiga Ter- versi saya. 

Tiga Penulis Ter-menarik hati
Ketiga. Agatha Christie. Maafkan saya karena baru tahun ini mulai 'serius' membaca karya karya beliau dan ternyata saya sangat menikmatinya. Selama ini saya selalu merasa Sherlock > Poirot, atau secara tidak langsung Conan Doyle > Agatha Christie. Tapi rasanya saya harus meralat justifikasi saya selama ini. Tahun 2017 ini mungkin saya akan banyak membaca buku-buku Agatha Christie yang lain. Sejauh ini saya baru membaca sekitar... hm... 10 (?) buku beliau. Bahkan terlintas di benak saya untuk menelusuri buku apa saja yang beliau tulis lalu membuat checklist kepemilikan dan checklist sudah dibaca.
Kedua. Harper Lee. Dua buku beliau "To Kill A Mockingbird" dan "Go Set A Watchman" mungkin menjadi dua buku yang sangat menginspirasi saya di tahun 2016. Gaya bahasanya sangat apik dan tertata.

Pertama. NEIL GAIMAN! Oh my God kenapa saya baru mulai membaca Neil Gaiman tahun 2016. Saya suka sekali dengan ide cerita yang disuguhkan Neil Gaiman. Dark Fantasy, mendebarkan, dan benar-benar berhasil membawa pembacanya ke dunia yang sama sekali berbeda selama membaca.

Tiga Buku Terbaik
Ketiga. Wonder (R.J Palacio)
Seperti yang pernah disebutkan di resensi saya, buku ini menjadi most wanted saya di tahun 2015 - 2016, dan akhirnya berhasil mendapatkan buku tersebut meskipun second handed.

Kedua. The Ocean At the End of the Lane (Neil Gaiman).
 Buku kedua dari Neil Gaiman yang saya baca setelah Coraline. Saya suka sekali dengan ide cerita dan imajinasi Neil Gaiman. Yang ini bercerita tentang keluarga penjaga keseimbangan semesta. Keluarga ini telah hidup bergenerasi-generasi dan tinggal di ujung jalan setapak.

Pertama. Animal Farm (George Orwell). Satir perpolitikan yang akan selalu relevan kapanpun masanya.

Well, masih ingin menyebutkan beberapa buku ter- tetapi harus segera pulang karena Dena juga sudah menunggu. Semoga lain kali bisa dilanjutkan.
Semangat membaca!

Desember 16, 2016

#PernikahanHariKe 77

Genap 4 hari pulang pergi kantor sendirian karena Dena sedang ada dinas di luar kota. Daann.. ternyata sangat melelahkan. Satu kali saya kelewatan turun di stasiun Pondok Jati karena ketiduran. Dua kali saya ketiduran di perjalanan menuju rumah karena ternyata macetnya mantap banget.
Rasanya pengen minta kompensasi weekend ini pacaran berdua saja sama Dena. Tapi, kalau dipikir-pikir lagi itu egois sekali.
Yang tidak berjumpa dengan Dena selama 4 hari terakhir bukan cuma saya. Yang capek selama 4 hari ini juga bukan cuma saya. Yang ada keinginan menghabiskan weekend bersama setelah lelah bekerja seminggu bukan cuma saya. So, yeah. Semuanya punya hak yang sama. :"D

Desember 09, 2016

#PernikahanHariKe 70

Sejak pacaran hingga menikah, saya hampir tidak pernah merasakan tatapan mesra/ penuh kasih sayang seperti di novel-novel yang saya baca. Kadang-kadang merasa sedih sih.
Tapi selalu ada hal-hal yang dia lakukan dan membuat saya meleleh kayak eskrim. Contohnya adalah kalimat, "Sini tukaran tasnya" ketika perjalanan pulang/ pergi kantor. (seringkali memang tas saya lebih berat dibanding tas Dena). 
Kalau sudah begitu, saya berusaha terlihat kalem hha. padahal sebenarnya mah GR karena orang secuek dia bisa perhatian banget mau bawain tas saya yang lebih berat.

Oktober 17, 2016

BOOK REVIEW: Animal Farm




Judul Buku      : Animal Farm
Penulis             : George Orwell
Tebal Buku      : 148 Halaman
Penerbit           : Bentang Pustaka
Tahun Terbit    : 2015

Animal Farm merupakan salah satu novel klasik fenomenal yang katanya wajib dibaca sebelum meninggal. Namun saya baru membacanya sekarang karena sempat tidak yakin apakah saya akan suka dengan novel yang merupakan alegori politik ini. Turns out, buku ini saya selesaikan dalam waktu 2 hari (karena terpotong aktivitas pindahan kamar).

Animal Farm ditulis dengan bahasa sederhana seperti layaknya fabel untuk anak-anak. Tetapi novel ini sebenarnya sarat akan sindiran dalam dunia politik. Jika saya baca di cover belakang buku, novel ini merupakan satir atas totaliterisme Uni Soviet yang ditulis pada masa perang dunia II. Namun saya pikir isi dari buku ini selalu relevan dengan apa yang biasanya terjadi di pemerintahan atau ketika melibatkan kekuasaan.

Dalam novel ini diceritakan tentang pemberontakan hewan-hewan di Peternakan Manor atas kesewenang-wenangan pemiliknya, Mr. Jones. Revolusi ini berhasil; peternakan diambil alih, hewan-hewan merdeka dan kemudian dipimpin oleh Babi (yang diceritakan sebagai kaum paling cendekia di peternakan itu). Awalnya pemberontakan ini menempatkan hewan-hewan pada kemerdekaan yang sesungguhnya. Tetapi “power” untuk memerintah peternakan mereka sendiri ternyata memecah hewan-hewan di dalamnya ke dalam kelas sosial yang berbeda-beda. Babi sebagai pemimpin. Anjing sebagai pasukan militer. Kuda sebagai kaum proletar pekerja keras. Keledai sebagai pihak yang banyak tahu tetapi enggan terlibat. Unggas sebagai rakyat yang tidak bisa berbuat banyak, dan seterusnya.

Di awal keberhasilan pemberontakan terhadap Mr. Jones, disepakati bahwa semua hewan mempunyai derajat yang sama. Tetapi seiring waktu berjalan dan kekuasaan mempengaruhi lakon politik di dalamnya, kesepakatan tersebut tidak berlaku lagi. Beberapa kelas hewan dianggap lebih baik dibanding kelas hewan lainnya. Yang membuat saya miris selama membaca ini, adalah tentang kediktatoran pemimpin dan rakyat yang terlalu bodoh untuk menyadari keadaan mereka sendiri. Rakyat seperti dicuci otak oleh pihak-pihak licik yang selalu meyakinkan mereka bahwa keadaan sekarang jauh lebih baik dibandingkan keadaan di masa lalu. Pada akhirnya, apa yang sebenarnya terjadi perlahan-lahan terhapus dari ingatan karena “orang” baik mati satu per satu, entah karena diusir, dibunuh, atau karena kesetiaan yang terlalu buta sampai mereka mati dengan sia-sia. Sementara rakyat lainnya, karena keterbatasan mereka, menerima keadaan dan tetap hidup dalam kepercayaan bahwa pimpinan mereka selalu benar.

Saya rasa buku ini pantas dibaca oleh setiap orang dewasa sebagai pengingat bahwa pemerintahan yang tidak dipegang dengan benar akan mendatangkan bencana. Bahwa terkadang sesuatu yang awalnya baik dan mempunyai tujuan mulia pun bisa berbelok karena beberapa oknum yang terpengaruh kekuasaan (power).

Last but not least, this is an utterly powerfull book. Dope!

September 12, 2016

Menuju #DNA

Selalu ada orang-orang yang kita tahu bahwa mereka mencintai kita, tetapi cara mereka mencintai kita sama sekali berbeda dari yang diharapkan. Sehingga ketika memakai alat ukur yang kita miliki, hasilnya (dari manapun) tidak terlihat bahwa mereka mencintai kita.
Saya butuh waktu yang cukup lama untuk menerima hal ini, bahwa cara menunjukkan kepedulian seseorang berbeda-beda.

Dulu sekali, ada semacam standar sederhana yang saya pikir bisa dijadikan indikator bahwa seseorang mempedulikan kita: keinginan mengetahui kabar, keinginan mengupayakan waktu bersama, kemauan untuk berusaha sedikit lebih keras lagi agar relationship (apapun itu) bisa berjalan. Tetapi pada kenyataannya itu hanya hipotesis saya yang tidak pernah terbukti.

Tidak tahu persis apa yang dirasakan sekarang. Hanya berharap, seseorang akhirnya mengerti bahwa bagi saya, menerima caranya mempedulikan saya menjadi hal yang sangat sulit sampai-sampai saya sendiri tidak yakin bahwa dia peduli terhadap saya. 
But there's no way back. There's no way back.

September 07, 2016

BOOK REVIEW: Wonder


Judul Buku: Wonder
Penulis: R.J. Palacio
Tebal Buku: 428 halaman
Penerbit: Penerbit Atria
Tahun Terbit: 2012

Sudah cukup lama menyelesaikan buku ini, namun baru sekarang sempat mereview.
Buku "Wonder" merupakan salah satu most wanted book dalam daftar keinginan saya. Dan entah kenapa buku ini sudah sangat sulit ditemui. Hingga pada suatu hari saya berhasil mendapatkan buku ini secara tidak sengaja (meskipun second hand) dari Pusaka Gesang. Rasanya seperti baru menang lotere.

Buku ini termasuk dalam kategori page-turner untuk saya. Rasanya tidak ingin melepaskan buku dari tangan tetapi juga tidak ingin ceritanya segera berakhir. Bercerita tentang seorang anak laki laki bernama Auggie (August Pulman) yang terlahir berbeda. Untuk Auggie, kegiatan paling normal macam apapun bagi anak seusianya, bisa menjadi hal yang sangat menakutkan untuk dijalani.

"Wonder" mengajarkan saya banyak hal: tentang penerimaan, tentang maaf, persahabatan, kebijakan, dan tentang 'menjadi sewajarnya manusia'.
Di sepertiga bagian awal saya cukup terganggu karena sudut pandang dalam buku ini berganti-ganti. Di bagian pertama, sudut pandang Auggie. Bagian ke dua, sudut pandang kakaknya (Via). Lalu saya sempat berharap bertemu sudut pandang Auggie lagi di bagian ketiga, yang sayangnya saya sempat kecewa karena selanjutnya adalah giliran Summer (teman Auggie). Begitu pun dengan bagian-bagian selanjutnya. Bahkan kita akan menemui sudut pandang dari teman Via.
Tetapi menariknya, R.J Palacio bisa merangkai cerita dengan sangat apik sampai sampai saya lupa bahwa saya awalnya sedang menunggu sudut pandang Auggie lagi.

Pergantian sudut pandang (yang tak hanya dari tokoh-tokoh utama) ternyata memberi efek yang baik bagi buku ini. Pembaca jadi diajak untuk melihat dunia dari sisi Auggie, dan di saat bersamaan juga diberi pemahaman bagaimana dunia memandang Auggie (dan ini wajar).
Saya sangat suka di bagian ketika Via sang kakak menampakkan sisi humanisnya. Seorang kakak yang selalu dinomorduakan, selalu mengalah, mempunyai adik yang berkebutuhan, dan sedang beranjak dewasa, yang pada akhirnya merasakan sedikit kekesalan atas kondisi tersebut. Mengharukannya, Via sedih karena merasakan kekesalan itu. Dia begitu mencintai keluarganya.

Tokoh favorit saya yang lain adalah Jack Will, yang mengingatkan saya bahwa kadang kadang seseorang begitu ingin menjadi orang lain, tetapi nurani tidak bisa berbohong. Hati nurani selalu menunjukkan kepada kita mana yang lebih sesuai untuk diri kita, mana yang sebenarnya kita inginkan. Yang kita perlukan adalah kejujuran terhadap diri sendiri dan keberanian untuk menghadapinya.
Dan yang terakhir, saya sangat suka dengan ide "Pedoman Mr. Browne"! Menginspirasi saya untuk menerapkannya :))

Buku ini sangat bagus dibaca oleh anak-anak yang beranjak remaja, sehingga mereka mempunyai pemahaman tentang perbedaan dan penerimaan, dan bagaimana cara menghadapinya. Buku ini bagus dibaca juga oleh orang dewasa, sebagai pengingat bahwa terkadang kita terlalu sibuk dengan diri sendiri, sampai-sampai lupa melihat sekitar, atau sejenak berhenti untuk sekedar bersyukur dan berterima kasih.

"Lakukan semua kebaikan yang bisa kaulakukan,
dengan semua yang bisa kauberikan,
dengan cara apa pun yang bisa kaulakukan,
di semua tempat yang kau bisa melakukannya,
pada siapa pun kau bisa melakukannya,
selama mungkin kau bisa melakukannya."

Juli 23, 2016

Berberes

Ada satu kegiatan yang sangat saya suka; berberes. Ketika pikiran kusut dan moodnya sedang berantakan dan tidak ada target lain selain bertahan hidup, saya akan berberes. Apa saja.
Misalnya berberes kamar. Karena seringnya kamarnya sudah rapi (cie), sasaran selanjutnya adalah deretan (dan tumpukan) buku-buku. Memeriksa apakah setiap buku sudah diberi sticker nama. Mengelap buku-buku tersebut dari debu, dan menyampuli buku-buku jika ternyata menemukan buku yang masih tersegel. Lalu menata ulang buku-buku tersebut.
Target lain adalah lemari baju. Memisahkan baju baju yang masih sering dipakai dan menyisihkan yang sudah tidak sering dipakai.
Seperti pagi ini, saya menyisihkan satu kardus baju yang sudah jarang pakai. Lalu bilang ke Mbak Min kalau kardus tersebut isinya baju layak pakai. Jadi Mbak Min akan memisahkan kardus tersebut dari sampah lainnya agar orang yang mengambil bisa memanfaatkan baju tersebut.

Kadang-kadang saya mengkhawatirkan diri saya sendiri yang lebih suka menghabiskan weekend seharian di dalam kamar dibandingkan pergi dan bersosialisasi :(
Tapi ya gimana yah :( kegiatan berberes dan menghabiskan waktu dengan diri sendiri ini bagi saya semacam charger energi yang sangat efektif.

Being surrounded by people drains me. ugh.

Juli 11, 2016

BOOK REVIEW: Majo & Sady

Judul Buku: Majo & Sady
Penulis: Jung Chul Yeon
Tebal Buku: 300 halaman
Penerbit: Penerbit Haru
Tahun Terbit: 2015

Saya mendapatkan buku ini dari kak Mawan tahun lalu, hasil book swap saat mendapatkan gaji pertama CPNS. Buku ini sampai dua hari lalu masih tersegel rapi sampai akhirnya saya merasa butuh bacaan yang ringan dan menghibur untuk menjaga kewarasan. :))

"tahun ini adalah tahun ketigaku menjadi suami yang mengurus rumah tangga"

Namanya Majo. Dia menghayati sekali perannya sebagai bapak pengurus rumah tangga. Sampai sampai benda terbaik dalam tahun 2010 baginya adalah pembersih oven serta peralatan memasak merk Astonish, mengalahkan iPhone dan Intel Core i7 di posisi ke-3 dan ke-2.

"Seperti mimpi! Hanya digosok saja, barang seperti baru kembali!" begitu kata Majo. lol.
 


Namanya Sady. Wanita karir yang mengingkari bahwa dia sudah mulai beranjak tua. Ada satu chapter yang membuat saya geleng-geleng kepala sambil senyum senyum sendiri. Yaitu ketika tengah malam Sady tiba-tiba marah kepada suaminya, Majo. Majo yang sedang tidur lalu kaget dan kebingungan tidak tahu salahnya apa. dan ternyata, dalam mimpi Sady, Majo selingkuh. lol. Memang sih terkadang mimpi buruk (terutama mimpi disakiti oleh orang lain) terasa begitu nyata dan membuat seseorang merasa begitu sedih dan gloomy pada saat bangun.

Yang menarik dari buku ini adalah banyak hal-hal unik dalam kehidupan rumah tangga yang diilustrasikan secara sederhana dan fun. Mungkin banyak pembaca (terutama pasangan muda usia 20 - 30 tahun) akan merasa punya banyak kemiripan dengan Majo Sady.
Bagi saya pribadi, buku ini asik. Dan saya membayangkan si penulis ini adalah orang yang sangat menyenangkan dan sangat mencintai istrinya. Saya suka dengan cara penulis mengilustrasikan karakternya dan karakter istrinya melalui tokoh Majo-Sady. He's a big-hearted and kind man.
Kekurangan buku ini bagi saya adalah, ada beberapa scene/ humor yang saya tidak mengerti. Mungkin karena konteksnya beda/ tidak familiar di Indonesia ya. Tapi bukan hal yang mengganggu sekali sih. Saya tetap menikmati membaca buku ini serta menyelesaikannya dalam waktu kurang dari 24 jam.

Untuk kamu yang butuh tertawa, buku ini bisa jadi salah satu alternatifnya :))
Rate saya untuk buku ini di Goodreads adalah 3.5 bintang