Juli 23, 2016

Berberes

Ada satu kegiatan yang sangat saya suka; berberes. Ketika pikiran kusut dan moodnya sedang berantakan dan tidak ada target lain selain bertahan hidup, saya akan berberes. Apa saja.
Misalnya berberes kamar. Karena seringnya kamarnya sudah rapi (cie), sasaran selanjutnya adalah deretan (dan tumpukan) buku-buku. Memeriksa apakah setiap buku sudah diberi sticker nama. Mengelap buku-buku tersebut dari debu, dan menyampuli buku-buku jika ternyata menemukan buku yang masih tersegel. Lalu menata ulang buku-buku tersebut.
Target lain adalah lemari baju. Memisahkan baju baju yang masih sering dipakai dan menyisihkan yang sudah tidak sering dipakai.
Seperti pagi ini, saya menyisihkan satu kardus baju yang sudah jarang pakai. Lalu bilang ke Mbak Min kalau kardus tersebut isinya baju layak pakai. Jadi Mbak Min akan memisahkan kardus tersebut dari sampah lainnya agar orang yang mengambil bisa memanfaatkan baju tersebut.

Kadang-kadang saya mengkhawatirkan diri saya sendiri yang lebih suka menghabiskan weekend seharian di dalam kamar dibandingkan pergi dan bersosialisasi :(
Tapi ya gimana yah :( kegiatan berberes dan menghabiskan waktu dengan diri sendiri ini bagi saya semacam charger energi yang sangat efektif.

Being surrounded by people drains me. ugh.

Juli 11, 2016

BOOK REVIEW: Majo & Sady

Judul Buku: Majo & Sady
Penulis: Jung Chul Yeon
Tebal Buku: 300 halaman
Penerbit: Penerbit Haru
Tahun Terbit: 2015

Saya mendapatkan buku ini dari kak Mawan tahun lalu, hasil book swap saat mendapatkan gaji pertama CPNS. Buku ini sampai dua hari lalu masih tersegel rapi sampai akhirnya saya merasa butuh bacaan yang ringan dan menghibur untuk menjaga kewarasan. :))

"tahun ini adalah tahun ketigaku menjadi suami yang mengurus rumah tangga"

Namanya Majo. Dia menghayati sekali perannya sebagai bapak pengurus rumah tangga. Sampai sampai benda terbaik dalam tahun 2010 baginya adalah pembersih oven serta peralatan memasak merk Astonish, mengalahkan iPhone dan Intel Core i7 di posisi ke-3 dan ke-2.

"Seperti mimpi! Hanya digosok saja, barang seperti baru kembali!" begitu kata Majo. lol.
 


Namanya Sady. Wanita karir yang mengingkari bahwa dia sudah mulai beranjak tua. Ada satu chapter yang membuat saya geleng-geleng kepala sambil senyum senyum sendiri. Yaitu ketika tengah malam Sady tiba-tiba marah kepada suaminya, Majo. Majo yang sedang tidur lalu kaget dan kebingungan tidak tahu salahnya apa. dan ternyata, dalam mimpi Sady, Majo selingkuh. lol. Memang sih terkadang mimpi buruk (terutama mimpi disakiti oleh orang lain) terasa begitu nyata dan membuat seseorang merasa begitu sedih dan gloomy pada saat bangun.

Yang menarik dari buku ini adalah banyak hal-hal unik dalam kehidupan rumah tangga yang diilustrasikan secara sederhana dan fun. Mungkin banyak pembaca (terutama pasangan muda usia 20 - 30 tahun) akan merasa punya banyak kemiripan dengan Majo Sady.
Bagi saya pribadi, buku ini asik. Dan saya membayangkan si penulis ini adalah orang yang sangat menyenangkan dan sangat mencintai istrinya. Saya suka dengan cara penulis mengilustrasikan karakternya dan karakter istrinya melalui tokoh Majo-Sady. He's a big-hearted and kind man.
Kekurangan buku ini bagi saya adalah, ada beberapa scene/ humor yang saya tidak mengerti. Mungkin karena konteksnya beda/ tidak familiar di Indonesia ya. Tapi bukan hal yang mengganggu sekali sih. Saya tetap menikmati membaca buku ini serta menyelesaikannya dalam waktu kurang dari 24 jam.

Untuk kamu yang butuh tertawa, buku ini bisa jadi salah satu alternatifnya :))
Rate saya untuk buku ini di Goodreads adalah 3.5 bintang

Juli 01, 2016

BOOK REVIEW: Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa (SKTLA)


Judul Buku:  Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa
Penulis: Maggie Tiojakin
Tebal Buku: 241 + xi halaman
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2013
 "karena apa-apa yang sederhana di dunia sebenarnya memiliki tingkat kerumitan yang tinggi" (Suatu Saat Kita Ingat Hari ini, hal. 170)

Alasan pertama kali saya meletakkan buku ini di daftar want-to-read saya ada 2: karena judulnya dan karena covernya. Judulnya sangat menarik, Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa. Dan covernya pun langsung membuat saya jatuh hati. Tapi apa daya buku ini baru saya temukan (pun secara tak sengaja) pada tahun 2016. Katanya, Tuhan memang terkadang bercanda; mengabulkan harapan kita ketika kita sendiri mulai rela melepaskannya.

Seperti kutipan di awal review ini, SKTLA menarik karena berhasil mengeksplor kerumitan dibalik hal-hal yang terlihat sederhana. Membuat pembacanya menyadari kompleksitas dari makhluk bernama manusia: motivasi, perasaan, dan emosi mereka.
Favorit saya adalah "dies irae, dies illa" yang berlatarkan kondisi saat perang, yang membuat Azmov bertanya tanya eksistensi Tuhan.

"Bu, Tuhan ada di mana?"
"Kenapa Tuhan tidak menghentikan perang?"


Awal sekali mendengar kata "Absurd" pada judul buku ini, saya mengira ini semacam buku "Little Prince" nya Antonie de Saint Exupery; tentang hal-hal yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Hipotesis ini didukung oleh ilustrasi pada cover buku. Tetapi ternyata tidak. Cerpen-cerpen di dalamnya banyak bercerita tentang hal yang erat kaitannya dengan kehidupan di sekitar kita. (Ya, buku ini adalah kumpulan cerpen!). Tentang kegemaran terhadap video game, keberanian menantang kehidupan, kehidupan rumah tangga, dan sebagainya. Satu-satunya yang mendekati hipotesis saya di awal adalah cerpen "Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa", seperti judul buku ini.
Mungkin "Absurd" yang dimaksud oleh Maggie adalah absurd dalam pengambilan sudut pandang terhadap hal-hal sederhana yang dijadikan tema cerita. Absurd karena alurnya dan ending yang terbuka.
Ini salah satu hal yang membuat saya berdebar-debar ketika membaca. Saya penyuka happy ending, dan membaca SKTLA membuat saya menebak-nebak bagaimanakah akhir dari setiap cerita dalam buku tersebut (Biasanya terkaan saya tepat!). Yang paling menyesakkan bagi saya adalah "Dia, Pemberani"
Mungkin ini salah satu pesan yang ingin disampaikan oleh Maggie: bahwa hidup ini terkadang absurd. bahwa ia kadang-kadang gagal menyuguhkan kisah indah seperti dalam novel-novel yang membuat pembaca terlena.
Saya merasa tertampar.

Hal lain yang unik adalah kreativitas Maggie dalam menciptakan latar yang sama sekali baru. Nama tokoh baru, nama kota baru. Latar belakang yang kosong ini, menurut saya, adalah salah satu keunggulan SKTLA.

Kekurangan buku ini, hm, mungkin akan menyajikan kekecewaan bagi pembaca yang memburu kisah manis dan akhir yang membahagiakan.
Buku ini saya rekomendasikan bagi yang ingin berhenti sejenak dari kisah-kisah mainstream yang dibuat atas dasar animo pembaca. Juga bagi yang ingin diajak bertanya-tanya, tersesat dalam kompleksitas permasalahan yang terlihat sederhana.

Selamat membaca, dan selamat tersesat di dalamnya!

p.s:
Ada buku yang ingin saya baca setelah menyelesaikan buku ini: The Long Rain, karya Ray Bradbury.
Rate saya terhadap buku ini di Goodreads adalah 4 bintang.

Juni 29, 2016

Friendlifeship: Nadya Stephanie Chammearc

Saya tidak bisa mengingat persis momen berkenalan dengan Nadya a.k.a Deao.
Yang saya ingat, dulu sekali ketika Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Badan POM tahun 2013, kami sering naik angkot bersama. Irisan kami saat itu adalah Suci (yang menjadi teman satu unit saya dan teman kuliahnya Deao).
Tidak ada perkenalan resmi, tiba tiba saja kami membicarakan tentang Bioteknologi di hari akhir pengumpulan laporan PKPA. BIOTEKNOLOGI! Hal pertama yang membuat saya memutuskan ,"orang ini bisa nih jadi teman saya!" Lol. Ya, maafkan atas keselektifan saya yang terlalu tinggi dalam memilih lingkaran pertemanan..

Hingga akhir 2014 tidak banyak interaksi yang kami lakukan. Tetapi saya masih menganggap Deao sebagai salah satu teman baik. Sesekali bertukar kabar (atau pendapat) melalui WhatsApp. Hingga akhirnya kami bertemu di pertengahan 2015 ketika saya mulai bekerja di Badan POM. It wasn't awkward even we haven't met for more than 2 years.

Sejak Agustus 2015 lalu, mungkin orang yang paling intens berkomunikasi dengan saya adalah Deao (dan kak Ajat, kakak kelas saya ketika SMA). Awalnya sederhana, karena significant other saya adalah kakak kelasnya, dan significant other Deao adalah salah satu teman baik saya (alm. Yoga) :')
Saya begitu mirip dengan alm. Yoga dan dia sedikit banyak mempunyai pola pikir yang sama dengan Dena. Melalui interaksi dengan Deao juga lah saya belajar mengerti Dena (Thans Deao you helped me a lot!)

Yang baik dan menarik dari Deao:
  1. Sesama penyuka sains. Oke, meskipun kali ini saya yakin saya jauh tertinggal dari dia yang melanjutkan studi di bidang Bioteknologi *cry*
  2. Logis dan tegas (kalau tidak mau dibilang galak). Everytime I'm slipping away from myself, Deao succeeds to remind me and move me back to my track. Terutama tentang urusan partner saya yang merupakan kakak kelasnya di ITB. Yang sangat saya hargai dari Deao adalah bahwa dia mampu mengembalikan "akal sehat" saya ketika saya down.
  3. Sesama biblioholic. Buku kesukaan kami memang berbeda. Saya Sherlockian, dia fans berat Agatha Christie. Saya jarang baca buku agama, dia rajin sekali baca buku buku agama. Saya suka komik, dia (sepertinya) tidak terlalu. Tetapi yang menyenangkan adalah perasaan senasib *tsah* dan pemahaman yang sama terhadap nilai sebuah buku. Apa yang lebih menyenangkan dibandingkan mengetahui ada orang yang juga memandang sesuatu seperti cara kita memandangnya?
  4. Sesama penyuka skin care dan kosmetik. Kalau urusan ini, sejujurnya Deao termasuk orang-orang yang mempengaruhi saya hingga akhirnya sekarang mengenal berbagai merk skin care dan kosmetik :D
  5. Dewasa (cie promosi banget saya).
Yang menyebalkan dan tidak menarik dari Deao:
  1. She's so blunt sometimes she hurts my heart lol. 
  2. I hate her because she was right then I regret it but I'm too late.
  3. Dia suka nonton. Saya kan gak suka nonton :( jadi sebel karena tidak bisa menanggapi cerita-ceritanya tentang TBBT atau GoT.
  4. Sombong (dan songong). I don't need another cocky person, I already have one: me! lol. Just kidding, De.
Tipikal Deao ketika saya mengeluh adalah mengajukan pertanyaan: "kamu mau komentar baik apa komentar jujur?" yang pasti akan saya jawab dengan: "dua-duanya"
Bagi INFJ paripurna seperti saya, mempunyai teman INTJ adalah blessing. Karena dia bisa memberikan saya perspektif lain dalam melihat permasalahan. Deao bisa menjadi rem ketika saya mulai menggunakan perasaan secara berlebihan. Tetapi dia juga bisa menjadi partner yang totalitas juga sadisnya ketika kami sama-sama men-judge sesuatu hal. haha :D What a perfect partner in crime!

Perkenalkan, yang disebelah saya namanya Nadya Stephanie. #lagiS2ITB #Deaosingle #anaknyasoleha #yangseriusPM #anaknyapintar

Juni 27, 2016

Take(n) for Granted

It is often said that people tend to take things around them for granted: their health, their family, their partner. They take it for granted because they never think that it could be gone someday.
 Firstly, let's take a look at our surroundings. When did the last time you phone your parents? When did the last time you talk to God and saying the gratitude for all the things He has given? When did the last time you buy small presents for your beloved one? When did the last time you text your best friend?

Yeah, today I mourned a lot. Because I regret many things. Because unconsciously I take something precious for granted.
You.

Juni 26, 2016

Perks (of being your partner) #1

Bagi seorang wanita yang pulang diatas jam 10 malam dari tempat yang cukup jauh, tawaran untuk diantar pulang sampai kos atau sekedar sampai stasiun terdekat sangatlah menarik. Begitu juga bagi saya. Meskipun tahu persis, yang menawarkan mengantar juga sebenarnya sedikit bimbang. Mungkin bukan karena tidak mau, tetapi lebih karena dia juga masih harus menempuh perjalanan jauh ke arah yang sama sekali berlawanan. Juga karena satu dan lain hal.

Jam 22.54.
Saya masih setengah berharap kamu mengantarkan saya hingga stasiun terdekat ketika ternyata kereta ke arah rumahmu datang terlebih dahulu.
Lalu kamu berpamitan singkat. Meminta maaf karena tidak bisa mengantarkan saya.
 
Mengingat-ingat kembali ke masa dua tahunan lalu, mungkin saya akan protes, atau merasa dianggap tidak penting, taken for granted. Bagaimana tidak, saya pernah memiliki partner yang bahkan jam setengah satu malam masih mau menemani saya pulang dari Depok menuju Bekasi. Sementara dia sendiri tinggal di Cilegon, nyaris ratusan kilometer jaraknya.

Berpartner denganmu memang menuntut saya untuk ekstra bersabar di awal-awal.

Banyak hal-hal yang oleh lingkungan sosial dianggap "memang sudah sewajarnya" menjadi sesuatu yang sangat istimewa bagi saya. Percakapan melalui telepon, kencan di akhir pekan, antar-jemput ketika bepergian, dan obrolan panjang lebar melalui WhatsApp atau LINE; semua itu menjadi sebuah kemewahan.
Saya ingat persis, 19 Desember tahun lalu untuk pertama kalinya saya diajak kondangan, menjadi plus-one. Teman baik saya, Nadya, marah-marah karena partner saya tidak mengantarkan saya hingga kos padahal waktu sudah menunjukkan pukul 21.00.

Itulah bedanya menjadi partner kamu, Na. Kamu mengajarkan saya untuk tetap menjadi wanita yang mandiri.
Mungkin memang di awal saya heran dan bertanya-tanya: "tidakkah kamu mengkhawatirkan keselamatan saya?",  "Apakah saya tidak se-worth itu?" , dan masih ada puluhan pertanyaan lain hilir mudik dalam pikiran.

Hal-hal semacam itu sempat membuat saya insecure. Terkadang iri dengan orang lain yang terlihat begitu gentle dan baik sekali dalam memperlakukan partnernya. Baseline saya di awal terlalu tinggi. Dan sekarang tiba-tiba saja saya harus menghapusnya, menyusun baseline baru yang mungkin jauh lebih rendah.

Kemudian setelah mengenalmu dan lingkunganmu, saya mulai memahami beberapa hal. Saya bisa mengerti jika kamu tidak (selalu) bisa melakukan hal-hal yang saya harapkan bisa kamu lakukan.
Cukup beruntung sih karena dengan demikian, secara tidak langsung kamu mengajarkan saya untuk terus menjadi sosok yang mandiri.

Menjalani banyak hal berdua memang menyenangkan, dibantu dalam banyak hal memang menyenangkan. Tetapi jika tidak memungkinkan, melakukannya sendirian pun tidak apa apa.
Semoga upaya saya bisa menjadi hal yang sedikit meringankan langkah kamu.

Juni 2016

(tulisan ini dibuat sebagai bentuk permintaan maaf untuk partner saya, Dena P. Putro)

Juni 23, 2016

Writing this post in the urge of wanting to let down my guard and being the selfish version of me.

Road not taken isn't easy Net. But I don't know why, (almost all the time) you choose it. You choose it with your own conscience.
So whose fault now that you feel so tired and alone? You. No one is responsible for every decision you made, Neti.


Juni 12, 2016

Tentang Menjaga Perasaan

Tulisan ini dilatarbelakangi oleh:
  1. Rasa lelah di sela-sela berberes kamar sehingga kemudian berhenti dan membuka Alba.
  2. Pengalaman pribadi dan pengalaman beberapa teman yang diceritakan kepada penulis.
  3. Keinginan menulis yang muncul begitu saja 
Menjaga perasaan (orang lain) memang bukan hal yang sederhana. Selalu ada sisi dalam diri kita yang ingin segera "membalas" bercandaan tanpa berpikir panjang, ingin segera "menyerang" ketika  ada pendapat yang tidak sama dengan standing position kita, atau bahkan ketika pendapat itu datang dari orang yang tidak kita sukai. Otak kita bekerja sekian mili detik langsung mencari celah dan kekurangan pendapat tersebut.
Ada juga yang suka sekali menjadikan bahan yang tidak lucu sebagai lelucon. Mengabarkannya kesana-kemari.

Pernah gak sih terpikir,
Orang yang dibilang "Ih kamu kok gendutan sih?", adalah orang yang sama yang setiap pagi dan malam menimbang berat badan. Takut-takut untuk sekedar memakan nasi melebihi 7 sendok makan.

Atau.
Wanita yang dibilang "Sejak kapan kamu jadi pengikut Deddy Corbuzier? Itu serem banget alisnya sampe setengahnya.", adalah orang yang sama yang sedang pelan-pelan dan serius sekali belajar memakai make up.
Atau.
Orang yang dibilang "Makanya nikah. Nunggu apa lagi sih?", adalah orang yang sama yang setiap hari berdoa dan berusaha tetapi berkali-kali juga mengalami penolakan.

Atau.
Orang yang dibilang "Kamu gak rajin bersihin muka ya, itu jerawat gak sembuh-sembuh", adalah orang yang paling rajin membersihkan muka siang malam dan menggunakan produk anti-jerawat, bahkan hingga berkonsultasi ke dokter kulit.

Atau.
Orang yang dibilang "Kurus banget sih kamu pasti makannya sedikit karena takut gemuk ya?, adalah orang yang sudah berusaha makan banyak tetapi memang berat badannya sulit bertambah lagi. Metabolisme tubuhnya memang demikian.

Memang rasanya menyenangkan sih ketika kita merasa posisi kita lebih baik dari orang lain. Tapi bukan dengan cara merendahkan orang lain juga, kan?
Tidak semua orang memiliki tubuh ideal. Bukan berarti orang yang tak bertubuh ideal tidak berusaha untuk menjadi demikian.
Tidak semua orang tiba-tiba pandai make up untuk sekedar penggunaan daily basis. Sudahlah, tidak perlu mengatakan yang membuat mereka justru trauma belajar.
Tidak semua orang beruntung dengan mudah bertemu dengan jodohnya. Dan tidak semua orang memiliki kulit wajah ideal. Beberapa acne-prone. Beberapa terlalu sensitif. Beberapa tone warnanya tidak merata.

Mungkin kita (terlebih saya sendiri) harus lebih sering mem-pause momen sebelum berbicara. Sebentar saja. Sekedar untuk meyakinkan bahwa kalimat yang akan meluncur tidak menyakiti orang lain. :)
Bisa saja, kalimat kita (yang malamnya saja sudah terlupakan) akan terus terusan teringat oleh orang yang mendengarnya. Bisa saja itu membuat mereka takut belajar lagi, tidak berani mencoba hal-hal baru. Bisa saja itu membuat kepercayaan diri mereka menurun.
Apa yang lebih jahat dibanding membuat orang lain merasa tidak percaya diri?
Oke. Banyak sih :") tapi membuat orang merasa less worth itu jahat sekali. 

Menjadi baik itu susah. Tetapi layak untuk diupayakan. Kita tidak pernah tahu persis perjuangn setiap orang, pengalaman macam apa yang dilewati mereka. Jadi bukan kapasitas kita untuk menghakimi mereka. Jangan sampai, secara tidak sengaja kita menjadi bagian dari orang-orang yang melakukan mental abuse.


Pun sebaliknya, kita harus yakin dengan self worth diri kita :)


Mei 13, 2016

Late Night Talk

Me : I feel responsible for everyone's feeling

You : Anyway, yes perhaps you are. Being responsible for someone's feeling. But everyone is also responsible for their own feeling. And I, They, everyone are also responsible to each other feeling

Me : Hu uh. I feel responsible for everyone's feeling but end up with messing up everything right?

You: Messed up is relative. For someone it is messed up. For others maybe not.

Me: *mikir*

You: We can't tidy up everything

Me: Eh aneh jadinya kalau di-quote pakai asterix jadi bold.

You: Aku belum pernah coba itu

SUNGGUH PEMBICARAAN YANG MELOMPAT LOMPAT. :")

Mei 07, 2016

Most Exhausting Things in the World

Di saat seharusnya sibuk dengan laporan aktualisasi, mood sore ini malah pengen ketak-ketik di blog. Padahal sebenarnya tidak tahu persis apa yang mau ditulis.
Well.
Kamu tahu nggak, apa yang melelahkan?
  1. membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain
  2. mengungkit-ungkit masa lalu
  3. denial terhadap kenyataan
  4. selalu berusaha memuaskan semua orang
  5. berusaha menjadi seseorang yang bukan diri sendiri
  6. terpaku pada kekurangan diri sendiri
  7. tidur lebih dari 8 jam sehari.
Semuanya saya lakukan 24 jam terakhir ini. Gak deng becanda. Tapi becandanya juga becanda. apaan sih maksudnya igh gak jelas. Well, saya ingin membahas beberapa poin dari yang tadi disebutkan sih sebenarnya.

Membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain. Seringkali saya mengingatkan diri sendiri bahwa tidak ada 2 orang yang sama di dunia ini. Garis start setiap orang berbeda, proses yang dialami berbeda. Dengan demikian outputnya pun berbeda. Iya, satu hal yang perlu kita sadari adalah kita mengawali kehidupan ini di posisi start yang tidak sama dan kita tidak bisa memilihnya. A dan B, di usia yang sama (misalnya 24 tahun), tentu tidak dapat begitu saja dibandingkan. Usia yang sama tidak membuat perbandingan A dan B apple to apple. Misalnya saja, A dilahirkan di keluarga yang well educated, cukup secara finansial, dan kebetulan dilahirkan di kota yang cukup besar. Wajar saja jika saat ini, A yang 24 tahun telah mempunyai gelar S1 yang bergengsi dari Universitas ternama, lingkungan sosialnya luas dan high class, melek mengenai fashion, punya banyak skill karena sejak kecil orangtuanya memaparkan dia kepada banyak sekali kegiatan dan les.
Berbeda dengan B yang kebetulan lahir di keluarga yang biasa-biasa saja dan less-educated. Tentu bagi B yang 24 tahun, berhasil lulus dan mempunyai gelar S1 dari universitas ternama adalah pencapaian yang cukup besar bagi dirinya sendiri dan keluarganya.
Sayangnya, B tidak seberuntung A. Dia tidak mendapat akses ke banyak hal yang bersifat sekunder atau tersier karena seluruh hidupnya dan keluarganya sudah cukup disibukkan dengan "how to survive".
Yang mungkin kurang adil adalah, dunia jarang sekali menganalisis orang dari sistem "input-process-output" ini. Iya, tentu saja secara objektif A mempunyai lebih banyak nilai plus dibanding B. Tapi, bukankah menjadi kewajaran bagi A yang inputnya sedemikian bagus, dan outputnya juga demikian? Bukankah suatu yang patut dibanggakan bahwa B yang inputnya cukup sederhana tetapi outputnya demikian?

Saya sedang belajar untuk lebih mengerti orang dari input dan proses yang mereka lalui. Tidak ingin pragmatis dan hanya melihat mereka yang sekarang seperti apa. Hampir setiap waktu ketika menemui orang yang kasar/ egois/ terlihat murung sepanjang waktu, saya bertanya-tanya dalam hati, "pengalaman macam apa yang telah kamu lalui?" "hal buruk seperti apa yang membuatmu bersikap seperti ini?" Dan ketika melihat mereka, rasanya justru ingin memeluk mereka dan mengatakan, "jangan patah, semua akan baik-baik saja selama kita terus bertahan."
Mungkin ini salah satu kelemahan yang membuat saya selalu berusaha mentoleransi orang lain. Saya percaya semua orang mempunyai sisi baik. Iya, naif.
Tetapi saya tidak keberatan untuk menjadi senaif ini.


Mengungkit-ungkit masa lalu. Untuk apa? Bukankah ini rasanya seperti bersaing dengan sesuatu yang tidak akan pernah kita menangkan? Kalau kamu punya pasangan yang mantannya banyak, ini berasa banget sih lol.  Maybe you'll keep wondering about them, you'll keep wondering why he/ she finally chooses you, you'll keep wondering why and why and why. it ends up with you, comparing yourself with his/ her ex(es).  
Yang bisa saya sarankan sih, kita harus tetap percaya diri dengan positioning kita. Selalu ada alasan atas pilihan-pilihan yang diambil oleh setiap orang. Termasuk pasangan kamu. Cie kamu yang sekarang sudah dipilih gak usah insecure deh sama masa lalu. *ini kenapa posting blog melompat lompat seperti ini hah*
Well, sebagai INFJ tulen saya mengakui tingkat insekuritas saya cukup mengkhawatirkan. Dan ini payah sekali sih kalau sudah berurusan dengan partner saya yang masa lalunya begitu  amazing.
Bahkan suatu hari dia secara jujur bilang," iya lo bukan tipe gw!" hayaahh mau pingsan aja deh :(

Kalau sedang merasa lelah, saya biasanya akan diam dan mengkontemplasikan banyak hal. Saya akan lebih banyak berjalan, lebih banyak melihat dan mendengar. Dan ini berhasil banget sih. Banyak orang di luar sana yang, untuk memiliki hidup seperti yang kita miliki sekarang saja rasanya seperti mimpi. 
Lalu biasanya saya sedih, kok saya kurang bersyukur sih? Kok saya kerjaannya membandingkan diri sendiri sama Chelsea Islan terus sih padahal dari mana mana ya jelas saya kalah telak dan ini suatu bentuk penyiksaan terhadap diri sendiri.
Hm.
Lalu inti dari post ini apa?
Mungkin adalah, bahwa terkadang yang kita butuhkan adalah keberanian untuk menerima hal-hal yang tidak bisa kita ubah. Keberanian untuk meng-embrace kekurangan kekurangan yang kita miliki. Dan keberanian untuk berdamai dengan kenyataan.
Dengan demikian, kita tidak begitu lelah menghadapi kehidupan yang terkadang sangat melelahkan :)

Selamat bersiap-siap kondangan, Neti.
Chin up and dress up.
Nanti ketemu kak Ajeng dan kak Sabrini jadi harus cantik ya :))