Juni 14, 2018

PINDAH

Halo,

Terima kasih telah menemani saya berproses hingga sekarang; dari masa-masa paling culun hingga sekarang yang masih culun meskipun sudah 28 tahun. Blog ini berharga bagi saya karena darinya saya pernah berkenalan dengan DeBlogger, termasuk dengan salah satu teman terbaik saya, kak Ecky Agassi

Saya berpindah ke blog baru saya, ARRESTO MOMENTUM. Kalau ditanya kenapa, mungkin karena visi misi blognya sudah berbeda. Saya menulis di blog ini dari masa masih S1, masa pencarian bentuk dan masa yang penuh dengan semangat berlebih. Apa pun saya tuangkan di sini. Mulai dari puisi alay hingga curhat harian.

Semakin tua, saya semakin suka hal-hal yang sederhana dan fungsional, dan sepertinya memperbaiki blog ini akan jauh lebih rumit (karena begitu banyaknya labels). Oh tentu saja saya dulu pernah menjadi bagian dari blogger yang banyak-banyak mencantumkan labels agar terlihat cantik ketika dibuat layout Cloud. Masa muda.

Tapi mungkin alasan lainnya adalah saya ingin memulai kembali dari awal. Membangun blog dengan penuh kesadaran. Semoga akan tetap konsisten demikian. Jika ada opsi filter dan memindahkan hal-hal baik dari blog ini ke blog baru (atau menghapus hal-hal yang menurut saya aib dari blog ini) saya pasti sudah melakukannya sejak lama. Tapi apa daya, hidup tak sesempurna itu. Dan blog ini menjadi bukti saya sebagai manusia dengan berbagai celanya.

Bagi yang pernah tersesat di sini (atau sekarang sedang tersesat), terima kasih telah bersedia berkunjung. Semoga berkenan mengunjungi rumah baru saya. 

Salam,
Neti

Maret 22, 2018

Late Night Talk

Ryan: Sometimes, when I am so tired of everything, I wish I don't exist
Or I wish I was a rock. So I don't need to deal with all of those things. Haha.
I wish I can time travel too. So many regrets.

Emma: Misalnya? Saya agak surprised kamu banyak regretsnya. Kalau saya selalu berharap jadi amoeba kalau sedang lelah dan malas berpikir.

Ryan: Hahaha

Emma: Lucu sih kamu kepikirannya batu.

Ryan: Amoeba kan masih mikir nyari makan.

Emma: Kok kamu tahu kalau amoeba berpikir? (gasped). Haha

Ryan: Hahahah. I am probably amoeba in other universe.

Emma: Jangan Amoeba deh. Kucing saja.

Ryan: Kucing juga susah. Banyak masalah.

Emma: Kucing tuh effortless lucu. Bisa tidur di mana-mana. Gak perlu berpikir cari uang.

Ryan: Tapi cari makan masih perlu buka-buka tempat sampah. Banyak orang yang jahat juga. Banyak saingan kucing liar di mana-mana.

Emma: Okelah batal jadi kucing. Batu saja. 😂

Ryan: 😂😂😂

Emma: Batu kalau kena hujan nanti juga hancur. 😂😂

Ryan: Sudah, jadi batu saja lah. Tinggal geletakin diri. Haha.

Emma:  Yasudah jadi manusia lagi saja lah

Ryan: 😂

November 13, 2017

Menjadi Orang Baik

Bahasan seputar "menjadi orang baik" rasanya sering sekali saya tulis di Tumblr, Blog, Twitter, atau mungkin status Facebook. Tentu saja bukan karena saya sudah baik, tapi semata-mata karena saya masih butuh diingatkan, termasuk oleh diri sendiri.

Kita tidak bisa cocok dengan semua orang, iya. Saya lebih ekstrim. Ada kalanya langsung merasa tidak cocok pada pertemuan pertama (lalu dikuatkan pada pertemuan-pertemuan berikutnya). Pernah suatu kali, saya meluangkan waktu cukup banyak untuk merenungkan alasan kenapa saya tidak cocok dengan orang tersebut. Namun pun setelah tahu, tidak banyak hal yang bisa dilakukan.

Pada akhirnya saya memutuskan bahwa waktu yang saya miliki terlalu singkat untuk dihabiskan dengan perasaan-perasaan negatif itu. Rasa tidak klik tetap ada, tapi yasudah dibiarkan saja. Ada banyak hal lain yang lebih penting untuk dipikirkan. Ada banyak hal lain yang harus dikerjakan dan dicapai. Saya selalu yakin bahwa perbuatan kita akan kembali ke diri sendiri. Dan menyadari bahwa saya masih jauh dari menjadi "orang baik", saya khawatir :|

Agustus 08, 2017

Self Reminder

"You have to let your heart feel when your emotions are knocking on its door, but you can’t let them compromise your dreams"

That's a sentence by Kaelly Welsh on her article (HERE). Ide yang dibawanya dalam artikel ini mengingatkan saya pada Prof Morrie Schwartz, seperti ditulis oleh Mitch Albom dalam buku Tuesdays with Morrie. Morrie mengatakan,"give yourself a cry each morning, then on with the day".


Akhir-akhir ini saya cukup kepayahan dengan ritme hidup yang baru. Pekerjaan yang semakin sibuk, dan jarak tempat tinggal yang semakin jauh dari kantor. Oh, dan beberapa hal personal lainnya. Tapi, semoga semua itu tidak lantas membuat saya lupa akan track yang sudah direncanakan dan goal yang ingin dicapai.
Semoga selalu bisa melakukan yang terbaik. Semoga tidak pernah lupa untuk tidak pernah menyerah.

Juli 04, 2017

Sebuah Kehilangan

Halo, kamu yang dulu menjadi bagian erat dari hidupku.
Terima kasih karena telah mengajarkanku banyak hal
Dan mungkin tidak sebaliknya. Dan aku tahu itulah kesalahan terbesarku.

Sebenarnya ada yang hilang ketika tidak ada lagi namamu di daftar teratas percakapan whatsappku.
Ada yang kurang ketika tidak ada balasan di tab mention twitterku.

Tapi aku tetap di sini, enggan pergi. Enggan menghapuskan namamu dari kontakku, daftar following Twitterku, teman di Goodreadsku.
Siapa tahu suatu saat kamu menengok dan mau menyapaku sekali lagi.

Biarkanlah puluhan kalimat yang telah kukirim lewat aplikasi percakapan di ponsel tetap tak terbaca olehmu. Dan biarkanlah aku untuk tetap tak mengetahui alasannya.
Semoga kamu baik-baik saja.

Semoga aku bisa baik-baik saja.
Semoga.

Januari 03, 2017

Ngobrol Buku: Tiga Ter- di Tahun 2016


Sepertinya saya layak mendapatkan ucapan selamat dari diri sendiri atas pencapaian saya dalam hal membaca di tahun ini *yaay!*
Di 3 bulan terakhir saya sempat keteteran dan ketinggalan dari track karena riweuh dengan persiapan pernikahan. Tapi di akhir tahun saya berhasil menyelesaikan 56 buku dari target membaca sebanyak 52. (Eh itu screen capturenya kurang update, masih 55 buku). Untuk meringkas aktivitas membaca selama setahun kemarin, saya ingin menulis tentang Tiga Ter- versi saya. 

Tiga Penulis Ter-menarik hati
Ketiga. Agatha Christie. Maafkan saya karena baru tahun ini mulai 'serius' membaca karya karya beliau dan ternyata saya sangat menikmatinya. Selama ini saya selalu merasa Sherlock > Poirot, atau secara tidak langsung Conan Doyle > Agatha Christie. Tapi rasanya saya harus meralat justifikasi saya selama ini. Tahun 2017 ini mungkin saya akan banyak membaca buku-buku Agatha Christie yang lain. Sejauh ini saya baru membaca sekitar... hm... 10 (?) buku beliau. Bahkan terlintas di benak saya untuk menelusuri buku apa saja yang beliau tulis lalu membuat checklist kepemilikan dan checklist sudah dibaca.
Kedua. Harper Lee. Dua buku beliau "To Kill A Mockingbird" dan "Go Set A Watchman" mungkin menjadi dua buku yang sangat menginspirasi saya di tahun 2016. Gaya bahasanya sangat apik dan tertata.

Pertama. NEIL GAIMAN! Oh my God kenapa saya baru mulai membaca Neil Gaiman tahun 2016. Saya suka sekali dengan ide cerita yang disuguhkan Neil Gaiman. Dark Fantasy, mendebarkan, dan benar-benar berhasil membawa pembacanya ke dunia yang sama sekali berbeda selama membaca.

Tiga Buku Terbaik
Ketiga. Wonder (R.J Palacio)
Seperti yang pernah disebutkan di resensi saya, buku ini menjadi most wanted saya di tahun 2015 - 2016, dan akhirnya berhasil mendapatkan buku tersebut meskipun second handed.

Kedua. The Ocean At the End of the Lane (Neil Gaiman).
 Buku kedua dari Neil Gaiman yang saya baca setelah Coraline. Saya suka sekali dengan ide cerita dan imajinasi Neil Gaiman. Yang ini bercerita tentang keluarga penjaga keseimbangan semesta. Keluarga ini telah hidup bergenerasi-generasi dan tinggal di ujung jalan setapak.

Pertama. Animal Farm (George Orwell). Satir perpolitikan yang akan selalu relevan kapanpun masanya.

Well, masih ingin menyebutkan beberapa buku ter- tetapi harus segera pulang karena Dena juga sudah menunggu. Semoga lain kali bisa dilanjutkan.
Semangat membaca!

Desember 16, 2016

#PernikahanHariKe 77

Genap 4 hari pulang pergi kantor sendirian karena Dena sedang ada dinas di luar kota. Daann.. ternyata sangat melelahkan. Satu kali saya kelewatan turun di stasiun Pondok Jati karena ketiduran. Dua kali saya ketiduran di perjalanan menuju rumah karena ternyata macetnya mantap banget.
Rasanya pengen minta kompensasi weekend ini pacaran berdua saja sama Dena. Tapi, kalau dipikir-pikir lagi itu egois sekali.
Yang tidak berjumpa dengan Dena selama 4 hari terakhir bukan cuma saya. Yang capek selama 4 hari ini juga bukan cuma saya. Yang ada keinginan menghabiskan weekend bersama setelah lelah bekerja seminggu bukan cuma saya. So, yeah. Semuanya punya hak yang sama. :"D

Desember 09, 2016

#PernikahanHariKe 70

Sejak pacaran hingga menikah, saya hampir tidak pernah merasakan tatapan mesra/ penuh kasih sayang seperti di novel-novel yang saya baca. Kadang-kadang merasa sedih sih.
Tapi selalu ada hal-hal yang dia lakukan dan membuat saya meleleh kayak eskrim. Contohnya adalah kalimat, "Sini tukaran tasnya" ketika perjalanan pulang/ pergi kantor. (seringkali memang tas saya lebih berat dibanding tas Dena). 
Kalau sudah begitu, saya berusaha terlihat kalem hha. padahal sebenarnya mah GR karena orang secuek dia bisa perhatian banget mau bawain tas saya yang lebih berat.

Oktober 17, 2016

BOOK REVIEW: Animal Farm




Judul Buku      : Animal Farm
Penulis             : George Orwell
Tebal Buku      : 148 Halaman
Penerbit           : Bentang Pustaka
Tahun Terbit    : 2015

Animal Farm merupakan salah satu novel klasik fenomenal yang katanya wajib dibaca sebelum meninggal. Namun saya baru membacanya sekarang karena sempat tidak yakin apakah saya akan suka dengan novel yang merupakan alegori politik ini. Turns out, buku ini saya selesaikan dalam waktu 2 hari (karena terpotong aktivitas pindahan kamar).

Animal Farm ditulis dengan bahasa sederhana seperti layaknya fabel untuk anak-anak. Tetapi novel ini sebenarnya sarat akan sindiran dalam dunia politik. Jika saya baca di cover belakang buku, novel ini merupakan satir atas totaliterisme Uni Soviet yang ditulis pada masa perang dunia II. Namun saya pikir isi dari buku ini selalu relevan dengan apa yang biasanya terjadi di pemerintahan atau ketika melibatkan kekuasaan.

Dalam novel ini diceritakan tentang pemberontakan hewan-hewan di Peternakan Manor atas kesewenang-wenangan pemiliknya, Mr. Jones. Revolusi ini berhasil; peternakan diambil alih, hewan-hewan merdeka dan kemudian dipimpin oleh Babi (yang diceritakan sebagai kaum paling cendekia di peternakan itu). Awalnya pemberontakan ini menempatkan hewan-hewan pada kemerdekaan yang sesungguhnya. Tetapi “power” untuk memerintah peternakan mereka sendiri ternyata memecah hewan-hewan di dalamnya ke dalam kelas sosial yang berbeda-beda. Babi sebagai pemimpin. Anjing sebagai pasukan militer. Kuda sebagai kaum proletar pekerja keras. Keledai sebagai pihak yang banyak tahu tetapi enggan terlibat. Unggas sebagai rakyat yang tidak bisa berbuat banyak, dan seterusnya.

Di awal keberhasilan pemberontakan terhadap Mr. Jones, disepakati bahwa semua hewan mempunyai derajat yang sama. Tetapi seiring waktu berjalan dan kekuasaan mempengaruhi lakon politik di dalamnya, kesepakatan tersebut tidak berlaku lagi. Beberapa kelas hewan dianggap lebih baik dibanding kelas hewan lainnya. Yang membuat saya miris selama membaca ini, adalah tentang kediktatoran pemimpin dan rakyat yang terlalu bodoh untuk menyadari keadaan mereka sendiri. Rakyat seperti dicuci otak oleh pihak-pihak licik yang selalu meyakinkan mereka bahwa keadaan sekarang jauh lebih baik dibandingkan keadaan di masa lalu. Pada akhirnya, apa yang sebenarnya terjadi perlahan-lahan terhapus dari ingatan karena “orang” baik mati satu per satu, entah karena diusir, dibunuh, atau karena kesetiaan yang terlalu buta sampai mereka mati dengan sia-sia. Sementara rakyat lainnya, karena keterbatasan mereka, menerima keadaan dan tetap hidup dalam kepercayaan bahwa pimpinan mereka selalu benar.

Saya rasa buku ini pantas dibaca oleh setiap orang dewasa sebagai pengingat bahwa pemerintahan yang tidak dipegang dengan benar akan mendatangkan bencana. Bahwa terkadang sesuatu yang awalnya baik dan mempunyai tujuan mulia pun bisa berbelok karena beberapa oknum yang terpengaruh kekuasaan (power).

Last but not least, this is an utterly powerfull book. Dope!

September 12, 2016

Menuju #DNA

Selalu ada orang-orang yang kita tahu bahwa mereka mencintai kita, tetapi cara mereka mencintai kita sama sekali berbeda dari yang diharapkan. Sehingga ketika memakai alat ukur yang kita miliki, hasilnya (dari manapun) tidak terlihat bahwa mereka mencintai kita.
Saya butuh waktu yang cukup lama untuk menerima hal ini, bahwa cara menunjukkan kepedulian seseorang berbeda-beda.

Dulu sekali, ada semacam standar sederhana yang saya pikir bisa dijadikan indikator bahwa seseorang mempedulikan kita: keinginan mengetahui kabar, keinginan mengupayakan waktu bersama, kemauan untuk berusaha sedikit lebih keras lagi agar relationship (apapun itu) bisa berjalan. Tetapi pada kenyataannya itu hanya hipotesis saya yang tidak pernah terbukti.

Tidak tahu persis apa yang dirasakan sekarang. Hanya berharap, seseorang akhirnya mengerti bahwa bagi saya, menerima caranya mempedulikan saya menjadi hal yang sangat sulit sampai-sampai saya sendiri tidak yakin bahwa dia peduli terhadap saya. 
But there's no way back. There's no way back.