Desember 09, 2016

#PernikahanHariKe 70

Sejak pacaran hingga menikah, saya hampir tidak pernah merasakan tatapan mesra/ penuh kasih sayang seperti di novel-novel yang saya baca. Kadang-kadang merasa sedih sih.
Tapi selalu ada hal-hal yang dia lakukan dan membuat saya meleleh kayak eskrim. Contohnya adalah kalimat, "Sini tukaran tasnya" ketika perjalanan pulang/ pergi kantor. (seringkali memang tas saya lebih berat dibanding tas Dena). 
Kalau sudah begitu, saya berusaha terlihat kalem hha. padahal sebenarnya mah GR karena orang secuek dia bisa perhatian banget mau bawain tas saya yang lebih berat.

Oktober 17, 2016

BOOK REVIEW: Animal Farm




Judul Buku      : Animal Farm
Penulis             : George Orwell
Tebal Buku      : 148 Halaman
Penerbit           : Bentang Pustaka
Tahun Terbit    : 2015

Animal Farm merupakan salah satu novel klasik fenomenal yang katanya wajib dibaca sebelum meninggal. Namun saya baru membacanya sekarang karena sempat tidak yakin apakah saya akan suka dengan novel yang merupakan alegori politik ini. Turns out, buku ini saya selesaikan dalam waktu 2 hari (karena terpotong aktivitas pindahan kamar).

Animal Farm ditulis dengan bahasa sederhana seperti layaknya fabel untuk anak-anak. Tetapi novel ini sebenarnya sarat akan sindiran dalam dunia politik. Jika saya baca di cover belakang buku, novel ini merupakan satir atas totaliterisme Uni Soviet yang ditulis pada masa perang dunia II. Namun saya pikir isi dari buku ini selalu relevan dengan apa yang biasanya terjadi di pemerintahan atau ketika melibatkan kekuasaan.

Dalam novel ini diceritakan tentang pemberontakan hewan-hewan di Peternakan Manor atas kesewenang-wenangan pemiliknya, Mr. Jones. Revolusi ini berhasil; peternakan diambil alih, hewan-hewan merdeka dan kemudian dipimpin oleh Babi (yang diceritakan sebagai kaum paling cendekia di peternakan itu). Awalnya pemberontakan ini menempatkan hewan-hewan pada kemerdekaan yang sesungguhnya. Tetapi “power” untuk memerintah peternakan mereka sendiri ternyata memecah hewan-hewan di dalamnya ke dalam kelas sosial yang berbeda-beda. Babi sebagai pemimpin. Anjing sebagai pasukan militer. Kuda sebagai kaum proletar pekerja keras. Keledai sebagai pihak yang banyak tahu tetapi enggan terlibat. Unggas sebagai rakyat yang tidak bisa berbuat banyak, dan seterusnya.

Di awal keberhasilan pemberontakan terhadap Mr. Jones, disepakati bahwa semua hewan mempunyai derajat yang sama. Tetapi seiring waktu berjalan dan kekuasaan mempengaruhi lakon politik di dalamnya, kesepakatan tersebut tidak berlaku lagi. Beberapa kelas hewan dianggap lebih baik dibanding kelas hewan lainnya. Yang membuat saya miris selama membaca ini, adalah tentang kediktatoran pemimpin dan rakyat yang terlalu bodoh untuk menyadari keadaan mereka sendiri. Rakyat seperti dicuci otak oleh pihak-pihak licik yang selalu meyakinkan mereka bahwa keadaan sekarang jauh lebih baik dibandingkan keadaan di masa lalu. Pada akhirnya, apa yang sebenarnya terjadi perlahan-lahan terhapus dari ingatan karena “orang” baik mati satu per satu, entah karena diusir, dibunuh, atau karena kesetiaan yang terlalu buta sampai mereka mati dengan sia-sia. Sementara rakyat lainnya, karena keterbatasan mereka, menerima keadaan dan tetap hidup dalam kepercayaan bahwa pimpinan mereka selalu benar.

Saya rasa buku ini pantas dibaca oleh setiap orang dewasa sebagai pengingat bahwa pemerintahan yang tidak dipegang dengan benar akan mendatangkan bencana. Bahwa terkadang sesuatu yang awalnya baik dan mempunyai tujuan mulia pun bisa berbelok karena beberapa oknum yang terpengaruh kekuasaan (power).

Last but not least, this is an utterly powerfull book. Dope!

September 12, 2016

Menuju #DNA

Selalu ada orang-orang yang kita tahu bahwa mereka mencintai kita, tetapi cara mereka mencintai kita sama sekali berbeda dari yang diharapkan. Sehingga ketika memakai alat ukur yang kita miliki, hasilnya (dari manapun) tidak terlihat bahwa mereka mencintai kita.
Saya butuh waktu yang cukup lama untuk menerima hal ini, bahwa cara menunjukkan kepedulian seseorang berbeda-beda.

Dulu sekali, ada semacam standar sederhana yang saya pikir bisa dijadikan indikator bahwa seseorang mempedulikan kita: keinginan mengetahui kabar, keinginan mengupayakan waktu bersama, kemauan untuk berusaha sedikit lebih keras lagi agar relationship (apapun itu) bisa berjalan. Tetapi pada kenyataannya itu hanya hipotesis saya yang tidak pernah terbukti.

Tidak tahu persis apa yang dirasakan sekarang. Hanya berharap, seseorang akhirnya mengerti bahwa bagi saya, menerima caranya mempedulikan saya menjadi hal yang sangat sulit sampai-sampai saya sendiri tidak yakin bahwa dia peduli terhadap saya. 
But there's no way back. There's no way back.

September 07, 2016

BOOK REVIEW: Wonder


Judul Buku: Wonder
Penulis: R.J. Palacio
Tebal Buku: 428 halaman
Penerbit: Penerbit Atria
Tahun Terbit: 2012

Sudah cukup lama menyelesaikan buku ini, namun baru sekarang sempat mereview.
Buku "Wonder" merupakan salah satu most wanted book dalam daftar keinginan saya. Dan entah kenapa buku ini sudah sangat sulit ditemui. Hingga pada suatu hari saya berhasil mendapatkan buku ini secara tidak sengaja (meskipun second hand) dari Pusaka Gesang. Rasanya seperti baru menang lotere.

Buku ini termasuk dalam kategori page-turner untuk saya. Rasanya tidak ingin melepaskan buku dari tangan tetapi juga tidak ingin ceritanya segera berakhir. Bercerita tentang seorang anak laki laki bernama Auggie (August Pulman) yang terlahir berbeda. Untuk Auggie, kegiatan paling normal macam apapun bagi anak seusianya, bisa menjadi hal yang sangat menakutkan untuk dijalani.

"Wonder" mengajarkan saya banyak hal: tentang penerimaan, tentang maaf, persahabatan, kebijakan, dan tentang 'menjadi sewajarnya manusia'.
Di sepertiga bagian awal saya cukup terganggu karena sudut pandang dalam buku ini berganti-ganti. Di bagian pertama, sudut pandang Auggie. Bagian ke dua, sudut pandang kakaknya (Via). Lalu saya sempat berharap bertemu sudut pandang Auggie lagi di bagian ketiga, yang sayangnya saya sempat kecewa karena selanjutnya adalah giliran Summer (teman Auggie). Begitu pun dengan bagian-bagian selanjutnya. Bahkan kita akan menemui sudut pandang dari teman Via.
Tetapi menariknya, R.J Palacio bisa merangkai cerita dengan sangat apik sampai sampai saya lupa bahwa saya awalnya sedang menunggu sudut pandang Auggie lagi.

Pergantian sudut pandang (yang tak hanya dari tokoh-tokoh utama) ternyata memberi efek yang baik bagi buku ini. Pembaca jadi diajak untuk melihat dunia dari sisi Auggie, dan di saat bersamaan juga diberi pemahaman bagaimana dunia memandang Auggie (dan ini wajar).
Saya sangat suka di bagian ketika Via sang kakak menampakkan sisi humanisnya. Seorang kakak yang selalu dinomorduakan, selalu mengalah, mempunyai adik yang berkebutuhan, dan sedang beranjak dewasa, yang pada akhirnya merasakan sedikit kekesalan atas kondisi tersebut. Mengharukannya, Via sedih karena merasakan kekesalan itu. Dia begitu mencintai keluarganya.

Tokoh favorit saya yang lain adalah Jack Will, yang mengingatkan saya bahwa kadang kadang seseorang begitu ingin menjadi orang lain, tetapi nurani tidak bisa berbohong. Hati nurani selalu menunjukkan kepada kita mana yang lebih sesuai untuk diri kita, mana yang sebenarnya kita inginkan. Yang kita perlukan adalah kejujuran terhadap diri sendiri dan keberanian untuk menghadapinya.
Dan yang terakhir, saya sangat suka dengan ide "Pedoman Mr. Browne"! Menginspirasi saya untuk menerapkannya :))

Buku ini sangat bagus dibaca oleh anak-anak yang beranjak remaja, sehingga mereka mempunyai pemahaman tentang perbedaan dan penerimaan, dan bagaimana cara menghadapinya. Buku ini bagus dibaca juga oleh orang dewasa, sebagai pengingat bahwa terkadang kita terlalu sibuk dengan diri sendiri, sampai-sampai lupa melihat sekitar, atau sejenak berhenti untuk sekedar bersyukur dan berterima kasih.

"Lakukan semua kebaikan yang bisa kaulakukan,
dengan semua yang bisa kauberikan,
dengan cara apa pun yang bisa kaulakukan,
di semua tempat yang kau bisa melakukannya,
pada siapa pun kau bisa melakukannya,
selama mungkin kau bisa melakukannya."

Juli 23, 2016

Berberes

Ada satu kegiatan yang sangat saya suka; berberes. Ketika pikiran kusut dan moodnya sedang berantakan dan tidak ada target lain selain bertahan hidup, saya akan berberes. Apa saja.
Misalnya berberes kamar. Karena seringnya kamarnya sudah rapi (cie), sasaran selanjutnya adalah deretan (dan tumpukan) buku-buku. Memeriksa apakah setiap buku sudah diberi sticker nama. Mengelap buku-buku tersebut dari debu, dan menyampuli buku-buku jika ternyata menemukan buku yang masih tersegel. Lalu menata ulang buku-buku tersebut.
Target lain adalah lemari baju. Memisahkan baju baju yang masih sering dipakai dan menyisihkan yang sudah tidak sering dipakai.
Seperti pagi ini, saya menyisihkan satu kardus baju yang sudah jarang pakai. Lalu bilang ke Mbak Min kalau kardus tersebut isinya baju layak pakai. Jadi Mbak Min akan memisahkan kardus tersebut dari sampah lainnya agar orang yang mengambil bisa memanfaatkan baju tersebut.

Kadang-kadang saya mengkhawatirkan diri saya sendiri yang lebih suka menghabiskan weekend seharian di dalam kamar dibandingkan pergi dan bersosialisasi :(
Tapi ya gimana yah :( kegiatan berberes dan menghabiskan waktu dengan diri sendiri ini bagi saya semacam charger energi yang sangat efektif.

Being surrounded by people drains me. ugh.

Juli 11, 2016

BOOK REVIEW: Majo & Sady

Judul Buku: Majo & Sady
Penulis: Jung Chul Yeon
Tebal Buku: 300 halaman
Penerbit: Penerbit Haru
Tahun Terbit: 2015

Saya mendapatkan buku ini dari kak Mawan tahun lalu, hasil book swap saat mendapatkan gaji pertama CPNS. Buku ini sampai dua hari lalu masih tersegel rapi sampai akhirnya saya merasa butuh bacaan yang ringan dan menghibur untuk menjaga kewarasan. :))

"tahun ini adalah tahun ketigaku menjadi suami yang mengurus rumah tangga"

Namanya Majo. Dia menghayati sekali perannya sebagai bapak pengurus rumah tangga. Sampai sampai benda terbaik dalam tahun 2010 baginya adalah pembersih oven serta peralatan memasak merk Astonish, mengalahkan iPhone dan Intel Core i7 di posisi ke-3 dan ke-2.

"Seperti mimpi! Hanya digosok saja, barang seperti baru kembali!" begitu kata Majo. lol.
 


Namanya Sady. Wanita karir yang mengingkari bahwa dia sudah mulai beranjak tua. Ada satu chapter yang membuat saya geleng-geleng kepala sambil senyum senyum sendiri. Yaitu ketika tengah malam Sady tiba-tiba marah kepada suaminya, Majo. Majo yang sedang tidur lalu kaget dan kebingungan tidak tahu salahnya apa. dan ternyata, dalam mimpi Sady, Majo selingkuh. lol. Memang sih terkadang mimpi buruk (terutama mimpi disakiti oleh orang lain) terasa begitu nyata dan membuat seseorang merasa begitu sedih dan gloomy pada saat bangun.

Yang menarik dari buku ini adalah banyak hal-hal unik dalam kehidupan rumah tangga yang diilustrasikan secara sederhana dan fun. Mungkin banyak pembaca (terutama pasangan muda usia 20 - 30 tahun) akan merasa punya banyak kemiripan dengan Majo Sady.
Bagi saya pribadi, buku ini asik. Dan saya membayangkan si penulis ini adalah orang yang sangat menyenangkan dan sangat mencintai istrinya. Saya suka dengan cara penulis mengilustrasikan karakternya dan karakter istrinya melalui tokoh Majo-Sady. He's a big-hearted and kind man.
Kekurangan buku ini bagi saya adalah, ada beberapa scene/ humor yang saya tidak mengerti. Mungkin karena konteksnya beda/ tidak familiar di Indonesia ya. Tapi bukan hal yang mengganggu sekali sih. Saya tetap menikmati membaca buku ini serta menyelesaikannya dalam waktu kurang dari 24 jam.

Untuk kamu yang butuh tertawa, buku ini bisa jadi salah satu alternatifnya :))
Rate saya untuk buku ini di Goodreads adalah 3.5 bintang

Juli 01, 2016

BOOK REVIEW: Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa (SKTLA)


Judul Buku:  Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa
Penulis: Maggie Tiojakin
Tebal Buku: 241 + xi halaman
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2013
 "karena apa-apa yang sederhana di dunia sebenarnya memiliki tingkat kerumitan yang tinggi" (Suatu Saat Kita Ingat Hari ini, hal. 170)

Alasan pertama kali saya meletakkan buku ini di daftar want-to-read saya ada 2: karena judulnya dan karena covernya. Judulnya sangat menarik, Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa. Dan covernya pun langsung membuat saya jatuh hati. Tapi apa daya buku ini baru saya temukan (pun secara tak sengaja) pada tahun 2016. Katanya, Tuhan memang terkadang bercanda; mengabulkan harapan kita ketika kita sendiri mulai rela melepaskannya.

Seperti kutipan di awal review ini, SKTLA menarik karena berhasil mengeksplor kerumitan dibalik hal-hal yang terlihat sederhana. Membuat pembacanya menyadari kompleksitas dari makhluk bernama manusia: motivasi, perasaan, dan emosi mereka.
Favorit saya adalah "dies irae, dies illa" yang berlatarkan kondisi saat perang, yang membuat Azmov bertanya tanya eksistensi Tuhan.

"Bu, Tuhan ada di mana?"
"Kenapa Tuhan tidak menghentikan perang?"


Awal sekali mendengar kata "Absurd" pada judul buku ini, saya mengira ini semacam buku "Little Prince" nya Antonie de Saint Exupery; tentang hal-hal yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Hipotesis ini didukung oleh ilustrasi pada cover buku. Tetapi ternyata tidak. Cerpen-cerpen di dalamnya banyak bercerita tentang hal yang erat kaitannya dengan kehidupan di sekitar kita. (Ya, buku ini adalah kumpulan cerpen!). Tentang kegemaran terhadap video game, keberanian menantang kehidupan, kehidupan rumah tangga, dan sebagainya. Satu-satunya yang mendekati hipotesis saya di awal adalah cerpen "Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa", seperti judul buku ini.
Mungkin "Absurd" yang dimaksud oleh Maggie adalah absurd dalam pengambilan sudut pandang terhadap hal-hal sederhana yang dijadikan tema cerita. Absurd karena alurnya dan ending yang terbuka.
Ini salah satu hal yang membuat saya berdebar-debar ketika membaca. Saya penyuka happy ending, dan membaca SKTLA membuat saya menebak-nebak bagaimanakah akhir dari setiap cerita dalam buku tersebut (Biasanya terkaan saya tepat!). Yang paling menyesakkan bagi saya adalah "Dia, Pemberani"
Mungkin ini salah satu pesan yang ingin disampaikan oleh Maggie: bahwa hidup ini terkadang absurd. bahwa ia kadang-kadang gagal menyuguhkan kisah indah seperti dalam novel-novel yang membuat pembaca terlena.
Saya merasa tertampar.

Hal lain yang unik adalah kreativitas Maggie dalam menciptakan latar yang sama sekali baru. Nama tokoh baru, nama kota baru. Latar belakang yang kosong ini, menurut saya, adalah salah satu keunggulan SKTLA.

Kekurangan buku ini, hm, mungkin akan menyajikan kekecewaan bagi pembaca yang memburu kisah manis dan akhir yang membahagiakan.
Buku ini saya rekomendasikan bagi yang ingin berhenti sejenak dari kisah-kisah mainstream yang dibuat atas dasar animo pembaca. Juga bagi yang ingin diajak bertanya-tanya, tersesat dalam kompleksitas permasalahan yang terlihat sederhana.

Selamat membaca, dan selamat tersesat di dalamnya!

p.s:
Ada buku yang ingin saya baca setelah menyelesaikan buku ini: The Long Rain, karya Ray Bradbury.
Rate saya terhadap buku ini di Goodreads adalah 4 bintang.

Juni 29, 2016

Friendlifeship: Nadya Stephanie Chammearc

Saya tidak bisa mengingat persis momen berkenalan dengan Nadya a.k.a Deao.
Yang saya ingat, dulu sekali ketika Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Badan POM tahun 2013, kami sering naik angkot bersama. Irisan kami saat itu adalah Suci (yang menjadi teman satu unit saya dan teman kuliahnya Deao).
Tidak ada perkenalan resmi, tiba tiba saja kami membicarakan tentang Bioteknologi di hari akhir pengumpulan laporan PKPA. BIOTEKNOLOGI! Hal pertama yang membuat saya memutuskan ,"orang ini bisa nih jadi teman saya!" Lol. Ya, maafkan atas keselektifan saya yang terlalu tinggi dalam memilih lingkaran pertemanan..

Hingga akhir 2014 tidak banyak interaksi yang kami lakukan. Tetapi saya masih menganggap Deao sebagai salah satu teman baik. Sesekali bertukar kabar (atau pendapat) melalui WhatsApp. Hingga akhirnya kami bertemu di pertengahan 2015 ketika saya mulai bekerja di Badan POM. It wasn't awkward even we haven't met for more than 2 years.

Sejak Agustus 2015 lalu, mungkin orang yang paling intens berkomunikasi dengan saya adalah Deao (dan kak Ajat, kakak kelas saya ketika SMA). Awalnya sederhana, karena significant other saya adalah kakak kelasnya, dan significant other Deao adalah salah satu teman baik saya (alm. Yoga) :')
Saya begitu mirip dengan alm. Yoga dan dia sedikit banyak mempunyai pola pikir yang sama dengan Dena. Melalui interaksi dengan Deao juga lah saya belajar mengerti Dena (Thans Deao you helped me a lot!)

Yang baik dan menarik dari Deao:
  1. Sesama penyuka sains. Oke, meskipun kali ini saya yakin saya jauh tertinggal dari dia yang melanjutkan studi di bidang Bioteknologi *cry*
  2. Logis dan tegas (kalau tidak mau dibilang galak). Everytime I'm slipping away from myself, Deao succeeds to remind me and move me back to my track. Terutama tentang urusan partner saya yang merupakan kakak kelasnya di ITB. Yang sangat saya hargai dari Deao adalah bahwa dia mampu mengembalikan "akal sehat" saya ketika saya down.
  3. Sesama biblioholic. Buku kesukaan kami memang berbeda. Saya Sherlockian, dia fans berat Agatha Christie. Saya jarang baca buku agama, dia rajin sekali baca buku buku agama. Saya suka komik, dia (sepertinya) tidak terlalu. Tetapi yang menyenangkan adalah perasaan senasib *tsah* dan pemahaman yang sama terhadap nilai sebuah buku. Apa yang lebih menyenangkan dibandingkan mengetahui ada orang yang juga memandang sesuatu seperti cara kita memandangnya?
  4. Sesama penyuka skin care dan kosmetik. Kalau urusan ini, sejujurnya Deao termasuk orang-orang yang mempengaruhi saya hingga akhirnya sekarang mengenal berbagai merk skin care dan kosmetik :D
  5. Dewasa (cie promosi banget saya).
Yang menyebalkan dan tidak menarik dari Deao:
  1. She's so blunt sometimes she hurts my heart lol. 
  2. I hate her because she was right then I regret it but I'm too late.
  3. Dia suka nonton. Saya kan gak suka nonton :( jadi sebel karena tidak bisa menanggapi cerita-ceritanya tentang TBBT atau GoT.
  4. Sombong (dan songong). I don't need another cocky person, I already have one: me! lol. Just kidding, De.
Tipikal Deao ketika saya mengeluh adalah mengajukan pertanyaan: "kamu mau komentar baik apa komentar jujur?" yang pasti akan saya jawab dengan: "dua-duanya"
Bagi INFJ paripurna seperti saya, mempunyai teman INTJ adalah blessing. Karena dia bisa memberikan saya perspektif lain dalam melihat permasalahan. Deao bisa menjadi rem ketika saya mulai menggunakan perasaan secara berlebihan. Tetapi dia juga bisa menjadi partner yang totalitas juga sadisnya ketika kami sama-sama men-judge sesuatu hal. haha :D What a perfect partner in crime!

Perkenalkan, yang disebelah saya namanya Nadya Stephanie. #lagiS2ITB #Deaosingle #anaknyasoleha #yangseriusPM #anaknyapintar

Juni 27, 2016

Take(n) for Granted

It is often said that people tend to take things around them for granted: their health, their family, their partner. They take it for granted because they never think that it could be gone someday.
 Firstly, let's take a look at our surroundings. When did the last time you phone your parents? When did the last time you talk to God and saying the gratitude for all the things He has given? When did the last time you buy small presents for your beloved one? When did the last time you text your best friend?

Yeah, today I mourned a lot. Because I regret many things. Because unconsciously I take something precious for granted.
You.

Juni 26, 2016

Perks (of being your partner) #1

Bagi seorang wanita yang pulang diatas jam 10 malam dari tempat yang cukup jauh, tawaran untuk diantar pulang sampai kos atau sekedar sampai stasiun terdekat sangatlah menarik. Begitu juga bagi saya. Meskipun tahu persis, yang menawarkan mengantar juga sebenarnya sedikit bimbang. Mungkin bukan karena tidak mau, tetapi lebih karena dia juga masih harus menempuh perjalanan jauh ke arah yang sama sekali berlawanan. Juga karena satu dan lain hal.

Jam 22.54.
Saya masih setengah berharap kamu mengantarkan saya hingga stasiun terdekat ketika ternyata kereta ke arah rumahmu datang terlebih dahulu.
Lalu kamu berpamitan singkat. Meminta maaf karena tidak bisa mengantarkan saya.
 
Mengingat-ingat kembali ke masa dua tahunan lalu, mungkin saya akan protes, atau merasa dianggap tidak penting, taken for granted. Bagaimana tidak, saya pernah memiliki partner yang bahkan jam setengah satu malam masih mau menemani saya pulang dari Depok menuju Bekasi. Sementara dia sendiri tinggal di Cilegon, nyaris ratusan kilometer jaraknya.

Berpartner denganmu memang menuntut saya untuk ekstra bersabar di awal-awal.

Banyak hal-hal yang oleh lingkungan sosial dianggap "memang sudah sewajarnya" menjadi sesuatu yang sangat istimewa bagi saya. Percakapan melalui telepon, kencan di akhir pekan, antar-jemput ketika bepergian, dan obrolan panjang lebar melalui WhatsApp atau LINE; semua itu menjadi sebuah kemewahan.
Saya ingat persis, 19 Desember tahun lalu untuk pertama kalinya saya diajak kondangan, menjadi plus-one. Teman baik saya, Nadya, marah-marah karena partner saya tidak mengantarkan saya hingga kos padahal waktu sudah menunjukkan pukul 21.00.

Itulah bedanya menjadi partner kamu, Na. Kamu mengajarkan saya untuk tetap menjadi wanita yang mandiri.
Mungkin memang di awal saya heran dan bertanya-tanya: "tidakkah kamu mengkhawatirkan keselamatan saya?",  "Apakah saya tidak se-worth itu?" , dan masih ada puluhan pertanyaan lain hilir mudik dalam pikiran.

Hal-hal semacam itu sempat membuat saya insecure. Terkadang iri dengan orang lain yang terlihat begitu gentle dan baik sekali dalam memperlakukan partnernya. Baseline saya di awal terlalu tinggi. Dan sekarang tiba-tiba saja saya harus menghapusnya, menyusun baseline baru yang mungkin jauh lebih rendah.

Kemudian setelah mengenalmu dan lingkunganmu, saya mulai memahami beberapa hal. Saya bisa mengerti jika kamu tidak (selalu) bisa melakukan hal-hal yang saya harapkan bisa kamu lakukan.
Cukup beruntung sih karena dengan demikian, secara tidak langsung kamu mengajarkan saya untuk terus menjadi sosok yang mandiri.

Menjalani banyak hal berdua memang menyenangkan, dibantu dalam banyak hal memang menyenangkan. Tetapi jika tidak memungkinkan, melakukannya sendirian pun tidak apa apa.
Semoga upaya saya bisa menjadi hal yang sedikit meringankan langkah kamu.

Juni 2016

(tulisan ini dibuat sebagai bentuk permintaan maaf untuk partner saya, Dena P. Putro)